Langsung ke konten utama

LOMBA PASKIBRA, SIAPA BERANI ? - PROSITION 6


Merangkum perjalanan mengikuti lomba Paskibra hingga Juara
Pramuka katanya gak bisa baris,
Pramuka katanya kucel,
Pramuka katanya ga modern,
Eits, siapa bilang ? Pramuka IRFA nyatanya tidak demikian, beberapa kali mengikuti perlombaan Paskibra, Pramuka IRFA bisa bersaing dan membuktikan kualitasnya.

1 September 2019



Berbekal dari solidaritas pasukan yang mulai terbangun, rasanya lomba ini akan menjadi kenangan lomba PBB terbaik untuk kami khususnya angkatan X, berawal dari coba-coba karena jaraknya yang dekat di kampus IKIP Siliwangi Cimahi, tropi untuk seluruh peserta yang membuat kami tidak rugi jika daftar, dan merupakan salah satu lomba bergengsi di lomba Paskibra itulah alasan kami untuk mengikuti lomba Prosition 6.

Masih hangat dalam ingatan, suasana technical meeting yang cukup panas karena jawara-jawara baris turut ambil bagian di pentas ini, dari penyamaan persepsi perpang, kesesuaian urutan aba-aba, interupsi mengenai teknis kegiatan, hingga pinalti jika ada atribut yang jatuh atau kurang semuanya dibahas secara terperinci. Sampailah pada saat pengocokan no tampil dimana kami mendapat no 67 dari 70 peserta. Wow, no urut akhir yang membuat dilema, ya dilemma karena peserta akhir bisa tampil sore dan apabila memukau penampilannya akan lebih memberikan kesan atau jika jelek siap-siap disoraki hampir seluruh peserta, karena mayoritas peserta yang sudah tampil biasanya langsung menonton peserta lain, apalagi dinomor akhir yang bisa disebut “penghabisan” membuat adrenalin lebih tinggi.



Hari dimana lomba dilaksanakan, rasanya sudah tidak sabar untuk menginjak aula sakral yang sering memakan korban, ya setiap tahun pasti selalu ada peserta yang terpeleset atau bahkan terjatuh jika tidak menyeimbangkan langkah. Tentu kami pun sudah mengantisipasi hal itu dengan membawa dua buah sepatu yang berbeda, kami membawa pentopel dan jenggel. Keduanya sudah dilapisi oleh ban motor, maksud hati sih agar tidak licin.
Kami coba lapangan dan akhirnya memilih menggunakan sepatu pentopel, let’s see namanya perlombaan tidak selalu berjalan mulus walaupun sudah dipersiapkan sebaik mungkin. Tragedi pertama, baju lomba kami belum selesai ditukang jahit, untuk informasi kami ingin pamer karena baju lama kami sudah usang, maklum usianya sudah 5 tahun bajunya sudah berwarna warni. Kak Iqbal, Fahrizal, dan Awan pergi mengambil jahitan yang sudah dijanjikan mengendarai motor, baru setengah perjalanan ada mobil tiba-tiba ngerem, sialnya motor Fahrizal nabrak motor kak Iqbal, ya lumayan kan bikin penyok plat nomor. Tragedi kedua, sepatu complete check, pada saat hendak disemir, entah bagaimana ceritanya ring pengikat tali sepatu Ijul ilang, kepanikan dimulai, bingung mencari tukang sol dimana sampai akhirnya kak Irdam menemukan tukan sol di daerah Jl. Gandawijaya sebrang Cimall. Tragedi ketiga, Baju sudah sampai ditempat lomba dengan keadaan badge nya kosong sana sini, boro-boro tertancap Tanda Kecakapan Khusus, tanda lokasi daerah dan gudep aja masih lepas-lepas, akhirnya double tip menjadi solusi, entah berapa banyak tempelan yang jelas pokoknya banyak, belum lagi masing-masing dari kami makan sambil dandan, makan sambil nyetrika, makan sambil pasang talikoor, makan sambil nyemir, utamanya semuanya disuapi ! Ya suasana rusuh kala itu menjadi kenangan tersendiri untuk kami. Tragedi keempat masih ada ? eh banyak tragedi malah, makanya lomba ini mungkin menjadi lomba paling berkesan untuk kami.



Ceritanya kami sudah siap untuk turun dengan atribut Pramuka lengkap, baju baru, dan sepatu yang sudah disemir, lagi-lagi banyak mata yang memperhatikan entah itu kagum, meremehkan, sinis, dan lain-lain kami tidak bisa menebak hati manusia, yang jelas puji syukur tidak ada yang nyinyir lagi sekarang walaupun kami satu-satunya Pramuka. Mungkin efek lomba Paskibra sebelumnya mendapat juara harapan utama 3.



Sambil menunggu giliran kami tampil, rasanya sudah tidak sabar dan semakin tegang, jam menunjukan pukul 17.10 seharusnya sudah giliran kami, namun sedikit ada kendala sehingga penampilan kami mundur. Akhirnya setelah selesai sesi DP Foto, kami memasuki DP duduk untuk membaca jimat kami, Asmaul Husna. Memasuki DP 1 awalnya kami merasa tegang, eh sialnya malah digombalin sama panitia. Salah satu panitia bertanya,
Panitia             : “kalau ini artinya lambang apa ?”
Elva                 : “ini artinya TKK Jalan,”
Panitia             : “bukan, artinya nanti kita bisa jalan berdua”
Ambyar sudah, hilang fokus karena guyonan panitia, sampai akhirnya kalimat “Bubar jalan” terdengar menandakan peserta sebelum kami telah menyelasaikan perlombaan.  
Tiba penampilan kami, tanpa diduga Aula yang semula riuh entah karena angin, entah karena berisik orang yang ngobrol, tiba-tiba hening. Saat gebrakan pertama dilangkahkan, riuh tepuk tangan mengiringi kami. Danton memasuki kotak danton, satu demi satu aba-aba pun dimulai. Jangan Tanya kak Iqbal yang sudah tidak jelas bentuk penampakannya.
Masuk tragedi keempat, tanpa diduga lantai Aula benar-benar licin, pada saat gerakan langkah bergeser secara otomatis kaki terseret sepasukan, jalan ditempat pun hampir saja terpeleset, sampai pada saat danton memberi aba-aba sikap lari maju, Resti yang mengerem untuk berhenti, badannya terdorong sampai depan. Tragedi selanjutnya, danton masuk ke aba-aba jalan ke berjalan, salah satu pasukan kami tiba-tiba beda langkah, shock tentu tapi untungnya tidak berlangsung lama dan bisa kembali menyesuaikan gerakan pasukan, jangan diulang lagi ya Syifa. Pada saat vafor pun, Salma melakukan gerakan berbeda, setelah dikonfirmasi rupanya doi lupa karena tegang. Pengalaman lomba yang campur aduk, lantai licin, wings jatoh, TKK ? Jangan tanya TKK yang di double tip itu, hampir rontok sepasukan. 
Kami selesai tampil bada maghrib, tidak terlalu berkespektasi tinggi memang untuk meraih juara diatas karena target kami pun lagi-lagi di Madya mengingat saingannya jawara baris semua.
Selang beberapa jam, panitia mengumumkan daftar pemenang dari juara ke 70 sampai seterusnya. Satu persatu nama sekolah sudah terpanggil, dan nama kami yang mewakili SMAN 1 Batujajar (Pramuka) ya, karena kami bertanding termasuk dengan sodara kami Paskibra, belum juga terpanggil. Ah mungkin diurutan madya seperti yang kami targetkan, ternyata lewat, gamau PD berlebih tapi Oh tuhan ini udah ngarep banget,  



Akhirnya pada saat pengumuman Juara Harapan Utama, lagi-lagi nama kami belum terpanggil, sampai pada pengumuman Juara Utama 2 dengan nilai 2966,7 diraih oleh SMAN 1 Batujajar (Pramuka). Sontak yang semula terdiam, semuanya bersorak girang bahkan ada yang terduduk menangis karena tidak percaya. Sorak-sorak Pramuka tiba-tiba menggema, seolah ekspresi melepas kebanggan kami yang bisa membawa nama baik Pramuka di ajang lomba Paskibra bergengsi se Pulau Jawa. Tuhan hari itu benar-benar maha baik, selain mendapat juara 2 utama, nyatanya kami pun berhasil meraih juara 2 PBB Murni terbaik dan Juara 2 Pelatih terbaik. Bangga!  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH PRAMUKA AMBALAN IR. SOEKARNO - FATMAWATI

Ir. Soekarno dan Fatmawati Sumber : google.doc Pemenuhan kebutuhan ekstrakulikuler bagi siswa – siswi dirasa perlu untuk  mengembangkan potensi diri serta mengasah minat dan bakat para siswa siswi SMA Negeri 1 Batujajar. Pada tahun 2009, Kak Yosep Setiadi diminta oleh Bapak Firman Dhany, S.Pd untuk mengembangkan Kepramukaan di lingkungan SMAN 1 Batujajar dan menjabat sebagai Pembantu Pembina. Perekrutan anggota pertama kali dilaksanakan dengan berkeliling ke setiap kelas dan berhasil mengumpulkan Anggota perintisnya ± 9 orang. Berjalan nya waktu, anggota bertambah dari semula 9 orang menjadi hampir19 orang sehingga dapat membentuk struktur kepengurusan walaupun masih bersifat sederhana, terdiri dari Pradana, Krani, Hartaka, Pemimpin Sangga, dan Juru Adat dengan susunan sebagai berikut : Mabigus                      : Drs. H Deddy Hidayat M. Pd Pembina ...

BADGE AMBALAN

BADGE AMBALAN IR. SOEKARNO - FATMAWATI GUGUS DEPAN 09-131/09-132 PANGKALAN SMAN 1 BATUJAJAR ARTI GAMBAR  Perisai dengan 6 sisi  Melambangkan bahwa Ambalan Ir. Soekarno - Fatmawati memiliki jiwa keberanian, mampu bertahan dan mempunyai perlindungan dalam mencapai tujuan.  Enam sisi melambangkan bahwa Ambalan Ir. Soekarno - Fatmawati diresmikan pada Bulan ke enam yaitu 21 Juni 2010.  Bintang Melambangkan bahwa Ambalan Ir. Soekarno - Fatmawati memiliki sifat Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  Dua Tunas Kelapa Saling Bertolak Belakang,  melambangkan bahwa Ambalan terdiri dari satuan terpisah antara anggota Pramuka Penegak Putra dan Putri dan merupakan salah satu wadah untuk menumbuhkan tunas - tunas bangsa yang baru. Kujang Pusaka asli Sunda yang melambangkan bahwa Pramuka Ambalan Ir. Soekarno - Fatmawati yang berlokasi di Tanah Sunda harus mempertahankan nilai - nilai Tradisi dan kearifan lokal    

SANDI AMBALAN

Ketaatan adalah Bakti Kejujuran adalah Bukti Kebaikan adalah Janji Kebersamaan adalah Inti Apalah arti hidup senang  Jika berdiri diatas derita saudara Apalah arti bahagia Jika hidup hanya berpura-pura Kita ada karena bersama Jangan hancur karena ego semata Kehormatan itu suci Jaga diri atau hidup tanpa arti Jasad ada bercermin mati Karena sikap acuh tak tahu diri Amalkan Trisatya tepati Dasadarma Senyumlah dalam suka Tenanglah dalam duka Berani berbuat belajar bertanggung jawab Itulah semboyan Ambalan kita