Babak
Baru Perjuangan
Beberapa
langkah lagi, cahaya itu muncul merambah kepelosok nusantara tentang sebuah
Negara merdeka bernama Indonesia.
Medio
Oktober 1944, Fatmawati menjahit gulungan berwarna merah dan putih dengan
ukuran kurang lebih setengah meter, namun ukuran tersebut dianggap terlalu
kecil untuk ukuran bendera yang akan dikibarkan pada saat proklamasi membuat
Brigjen TNI (Purn) Lukas Kustaryo yang pada saat itu ditugaskan untuk membawa
surat pribadi Tan Malaka untuk Soekarno, berinisiatif mencari kain berwarna
merah. Tanpa arah tujuan, Brigjen Lukas menyusuri sepanjang rel Jalan
Pegangsaan hingga Manggarai, hingga akhirnya dia melihat tenda warung soto
berwarna merah. Meskipun kain nya tidak terlalu bagus dan sudah robek, namun
kain itu cukup besar untuk dapat dijahit menjadi bendera, kain itu akhirnya
dibeli seharga 500 rupiah.
Di
Jalan Pegangsaan Timur no. 56, Fatmawati menjahit dua potong kain yang cukup
panjang berwarna merah yang didapat dari tenda warung soto dan warna putih yang
berasal dari sprei miliknya. 2 hari lamanya Fatmawati menjahit bendera karena
sedang hamil tua mengandung putra pertamanya yang kemudian diberinama Muhamad
Guntur Soekarno Putra.
Kelahiran
Putra pertama tidak membuat Fatmawati terpaku dalam urusan rumah tangga, dia
tetap mendampingi Soekarno termasuk pada saat rapat BPUPKI membahas usulan
Dasar Negara.
Hari
kelam berganti cemerlang, aroma kebebasan cukup menyeruak mengingat Jepang
sudah kalah tanpa syarat ditangan sekutu pada 14 Agustus 1945. Desakan
Proklamasi semakin menggebu, pada saat peristiwa Rengasdengklok terjadi dimana
Soekarno – Hatta diculik oleh pemuda beserta Fatmawati dan Guntur yang ikut
mendampinginya, 17 Agustus 1945 Soekarno – Hatta atas nama Bangsa Indonesia
membacakan naskah Proklamasi dan bendera Merah Putih yang dijahit Fatmawati dikibarkan,
Fatmawati pun sibuk bertugas mempersiapkan Dapur Umum untuk pemuda-pemuda dan
anak pejuang yang menjaga Soekarno di Pegangsaan Timur no. 56, terlebih
Fatmawati hanya dibantu beberapa orang pembantu rumah tangga.
Menyamar
Menjadi Tukang Sayur dan Tukang Pecel
Pasca
Proklamasi, keadaan tidak lantas menjadi baik-baik saja, Soekarno tidur
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sambil menyamar. Untuk pergi kesalah satu rumah kawan didaerah
Matraman pun Soekarno menyamar menjadi seorang penjual sayur dengan memakai
kopiah buruk, kemeja kotor dan kumal, celana rombengan serta sarung pelekat tua
melilit dipinggangnya terus menjajakan sayurnya sampai ke rumah kawan yang
dituju. Sedangkan Fatmawati menyamar menjadi penjual pecel dengan konde diatas
kepala dan kebaya kumal.
Ibu
Agung Negara Indonesia
Sidang
PPKI tanggal 19 Agustus 1945 menghasilkan keputusan secara aklamasi
pengangkatan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dengan Fatmawati
mendampingi sebagai Ibu Negara. Perubahan status tidak menjadikan Fatmawati
jumawa, justru Fatmawati tetap berpenampilan sederhana dengan kerudung
menyelendang sebagai ciri khasnya, dan tetap memberikan teladan yang baik bagi
kaum perempuan dalam bersikap, berlaku, maupun berpakaian.
Jakarta
pada tahun 1946 dirasa semakin tidak aman, sekutu kembali ke Indonesia dengan
tujuan ingin kembali menjajah membuat Soekarno terpaksa hijrah ke Yogyakarta
untuk sementara. Di Yogyakarta, Fatmawati melahirkan anak kedua yang diberinama
Megawati Soekarno Putri pada tanggal 23 Januari 1946.
Ditengah
suasana Revolusi yang mencekam, Fatmawati kerap menemani Soekarno untuk
membakar api semangat rakyat, termasuk menemani kunjungan ke daerah Garut,
Tasikmalaya, Cirebon, dan Malang. Kesetiaan Fatmawati tidak hanya sampai
disitu, pada saat Belanda melancarkan Agresi Militer II tanggal 19 Desember
1948, Soekarno, Hatta, dan para tokoh nasional lainnya ditangkap dan diasingkan
ke pulau Bangka, sedangkan keluarganya tidak diperbolehkan turut serta.
Fatmawati tidak menyerah, meskipun harus meninggalkan Gedung Agung dan tinggal
disebuah rumah sederhana pinggiran Kota Yogyakarta, Fatmawati tidak tunduk pada
rayuan dan paksaan Belanda untuk bekerja sama sampai Soekarno dikembalikan ke
Yogyakarta tahun 1949.
Belanda
mengakui kedaulatan Indonesia Serikat, Soekarno – Hatta dilantik sebagai
Presiden dan Wakil Presiden RIS dan selanjutnya kembali bertugas di Jakarta.
Fatmawati berperan sebagai Ibu Negara bukan hanya pada acara resmi kenegaraan,
selain turut mendampingi Soekarno dalam lawatan perdana Kepala Negara ke luar
Negeri ke India, Pakistan, dan Burma, Fatmawati juga aktif di kegiatan-kegiatan
sosial seperti pemberantasan buta huruf, mendorong kegiatan kaum perempuan
dibidang pendidikan dan ekonomi, serta merintis kegiatan amal untuk pembangunan
Rumah Sakit yang saat ini dinamakan Rumah Sakit Fatmawati.
Fatmawati
melahirkan anak ke tiga dan keempat yang masing-masing diberi nama Dyah Permana
Rachawati dan Dyah Mutiara Sukmawati, sebelum akhirnya memiliki anak laki-laki
pamungkas bernama Guruh Irianto Soekarno Putra.
Meninggalkan
Istana sebagai Prinsip
Memiliki
lima anak dari Fatmawati, rupanya tidak melunturkan hasrat Soekarno sebagai
pecinta wanita, Soekarno berencana untuk menikahi Hartini membuat Fatmawati
kecewa. Fatmawati meminta untuk dikembalikan pada orang tua serta menyelesaikan
permasalahan secepatnya. Fatmawati tetap berprinsip tidak menyetujui poligami
karena menginjak martabat wanita dan lebih memilih untuk berpisah.
Sekitar
tahun 1955, Fatmawati memutuskan keluar dari Istana dan tinggal di Jl.
Sriwijaya, Kebayoran Baru. Meskipun status Fatmawati masih sebagai istri
Soekarno karena belum diceraikan, Fatmawati kukuh mempertahankan prinsipnya dan
bersikap keras kepala untuk tidak kembali ke Istana. Fatmawati memilih hidup
bebas ditengah masyarakat daripada hidup dengan aturan-aturan protokoler yang
kaku didalamnya.
Masyarakat
Kebayoran Baru senang dapat melihat Fatmawati, terlebih Fatmawati tetap
menjalankan kegiatan-kegiatan sosial seperti sebeleumnya hingga tidak heran
masyarakat memberinya gelar “Ibu Agung”.
Sayap
Seekor Burung
Semasa
mengenal Fatmawati, Soekarno pernah mengirimi surat pada Fat yang bertuliskan
“Laki-laki dan perempuan adalah seperti sayap dari seekor burung, jika dua
sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak yang
setinggi-tingginya; Jika patah satu dari dua sayap itu, maka tak dapatlah
terbang burung itu sama sekali.”
Menjelang
keruntuhan Soekarno, situasi politik Indonesia kacau, fitnah bertebaran
dimana-mana, sampai pada masa klimaksnya, Soekarno dipaksa turun dan digantikan
oleh Soeharto melalui legitimasi Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Kesehatan Soekarno pun ikut menurun hingga akhirnya menemui ajal.
Fatmawati
sangat terpukul mendengar berita kepergian Soekarno, dalam masa berkabung
Fatmawati masih kukuh untuk tidak pergi ke Wisma Yaso tempat persemayaman
terakhir Soekarno seperti yang dilakukan istri lainnya. Karenanya, begitu
mengetahui kabar kepergian Soekarno, Fatmawati sempat meminta izin kepada
Presiden Soeharto agar mayat Soekarno dapat disemayamkan di rumahnya di Jalan
Sriwijaya, Kebayoran Baru. Namun saying, permintaan itu ditolak oleh Soeharto.
Fatmawati
semakin merana, antara ingin menemui wajah suaminya untuk terakhir kali dengan
keteguhan prinsip. Bahkan putra-putrinya tidak bisa mempengaruhi keputusan
Fatmawati untuk tetap tinggal dirumah. Meskipun atas keputusan semua pihak,
peti jenazah ditutup hingga batas akhir jam 24.00 WIB, dengan harapan Fatmawati
datang pada detik-detik terakhir. Namun Fatmawati tak juga datang.
Raga
Fatmawati mungkin tidak hadir, namun jiwanya turut menyertai langkah terakhir
Soekarno. Fatmawati mengirimkan karangan bunga dengan kalimat pendek nan
puitis, Fat menuliskan pesan, “Tjintamu yang menjiwai hati rakjat, tjinta Fat”.
Kepergian
sang Ibu Agung
Siapa
sangka pertemuan sakral itu akan terlaksana, setelah entah berapa ratus purnama
dilewati, bidak-bidak kehidupan yang menyulut perasaan setiap insan melebur
luruh kembali ke asal.
Tepatnya
pada tahun 1980, atas perantara Ali Sadikin yang menjabat sebagai Gubernur
Jakarta. Fatmawati menemui Inggit Garnasih, sembari berlinang air mata,
Fatmawati berlutut dan meminta maaf karena telah mengambil Soekarno dari
Inggit.
Kepada
Fatmawati Inggit berkata sudah memaafkannya dari dulu, dan mengatakan seorang
Ibu adalah lautan maaf bagi anak-anaknya. Inggit juga berpesan pada Fat, jangan
mencubit jika tidak ingin dicubit.
Beberapa
bulan setelah pertemuan yang mengharu biru dengan Inggit, Fatmawati turut
mengikuti jejak Soekarno bersemayam di alam keabadian. Tepat tanggal 14 Mei
1980, Fatmawati meninggal pada usia 57 tahun karena serangan jantung pasca
melaksanakan Ibadah Umroh pada saat pesawat nya singgah di Kuala Lumpur,
Malaysia dalam penerbangan menuju Jakarta dari Mekkah.
Semasa
hidup, Fatmawati dikenal sebagai sosok wanita yang ramah, setia, teguh
pendirian, dan gigih dalam memperjuangkan hak-hak wanita. Banyak sekali hal-hal
yang dapat diteladani dari sosok Fat, terlepas dari dinamika asmara insani yang
menyatukan dan memisahkan Fatmawati dengan Soekarno.
Sebagai
penghormatan, Fatmawati dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 Nopember 2000 oleh
Presiden Abdurrahman Wahid dan
namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Fatmawati di Jakarta Selatan,
Bandara Fatmawati di Begkulu, serta Monumen Fatmawati di Bengkulu.
Ditulis oleh Iqbal Muhamad Sahid - 0926091650201
Angkatan 2 Pramuka IRFA
Ditulis oleh Iqbal Muhamad Sahid - 0926091650201
Angkatan 2 Pramuka IRFA
Daftar
Pustaka
NN. Biografi Fatmawati. Diaskses pada jam 21.20 WIB tanggal 20 April 2020 tersedia dilaman: https://www.biografiku.com/biografi-fatmawati-soekarno.
Puspafirdausi, Fidya Alifa. Brigjen Lukas Kustaryo Cari Kain Merah untuk Bendera Pusaka, Pakai Kain Bekas Tenda Kaki Lima. Diakses pada jam 01.00 WIB tanggal 21 April 2020 tersedia dilaman:
Ramadhan.K.H. Soekarno: Kuantar ke Gerbang. Yogyakarta. Penerbit Bintang, 1998.
Rubiah, Hilda. Kisah Unik Setelah Proklamasi, Soekarno Menyamar Jadi Tukang Sayur dan Fatmawati Jadi Tukang Pecel, diakses pada jam 23.15 WIB tanggal 20 April 2020 tersedia dilaman:
Saputro, Rezeqi Hardam. Fatmawati Pernah Berlutut Kepada Inggit Garnasih Hingga Berlinang Air Mata. Diakses pada jam 07.00 WIB tanggal 21 April 2020 tersedia dilaman:
Turnip, Tariden. Jokowi Resmikan
Monumen Fatmawati, Inilah Detik-detik Fatmawati Menjahit Sang Saka Merah, diakses
pada jam 22.30 WIB tanggal 20 April 2020 tersedia dilaman: https://medan.tribunnews.com/2020/02/05/jokowi-resmikan-monumen-fatmawati-inilah-detik-detik-fatmawati-menjahit-sang-saka-merah-putih?page=all.

Komentar
Posting Komentar