Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

LOMBA PASKIBRA, SIAPA BERANI ? - PROSITION 6

Merangkum perjalanan mengikuti lomba Paskibra hingga Juara Pramuka katanya gak bisa baris, Pramuka katanya kucel, Pramuka katanya ga modern, Eits, siapa bilang ? Pramuka IRFA nyatanya tidak demikian, beberapa kali mengikuti perlombaan Paskibra, Pramuka IRFA bisa bersaing dan membuktikan kualitasnya. 1 September 2019 Berbekal dari solidaritas pasukan yang mulai terbangun, rasanya lomba ini akan menjadi kenangan lomba PBB terbaik untuk kami khususnya angkatan X, berawal dari coba-coba karena jaraknya yang dekat di kampus IKIP Siliwangi Cimahi, tropi untuk seluruh peserta yang membuat kami tidak rugi jika daftar, dan merupakan salah satu lomba bergengsi di lomba Paskibra itulah alasan kami untuk mengikuti lomba Prosition 6. Masih hangat dalam ingatan, suasana technical meeting yang cukup panas karena jawara-jawara baris turut ambil bagian di pentas ini, dari penyamaan persepsi perpang, kesesuaian urutan aba-aba, interupsi mengenai teknis kegiatan, hingga pinalt...

MENGENAL SOSOK FAT - Bagian 2

Babak Baru Perjuangan Beberapa langkah lagi, cahaya itu muncul merambah kepelosok nusantara tentang sebuah Negara merdeka bernama Indonesia. Medio Oktober 1944, Fatmawati menjahit gulungan berwarna merah dan putih dengan ukuran kurang lebih setengah meter, namun ukuran tersebut dianggap terlalu kecil untuk ukuran bendera yang akan dikibarkan pada saat proklamasi membuat Brigjen TNI (Purn) Lukas Kustaryo yang pada saat itu ditugaskan untuk membawa surat pribadi Tan Malaka untuk Soekarno, berinisiatif mencari kain berwarna merah. Tanpa arah tujuan, Brigjen Lukas menyusuri sepanjang rel Jalan Pegangsaan hingga Manggarai, hingga akhirnya dia melihat tenda warung soto berwarna merah. Meskipun kain nya tidak terlalu bagus dan sudah robek, namun kain itu cukup besar untuk dapat dijahit menjadi bendera, kain itu akhirnya dibeli seharga 500 rupiah. Di Jalan Pegangsaan Timur no. 56, Fatmawati menjahit dua potong kain yang cukup panjang berwarna merah yang didapat dari tenda warung...

MENGENAL SOSOK FAT - Bagian 1

Siapa sangka seorang gadis yang dilahirkan di Kampung Pasar Malabero Bengkulu kelak menjadi seorang First Lady Indonesia dan Penjahit Bendera Merah Putih yang menjadi simbol Negara ? Dialah Fat, seorang perempuan bernama Fatimah atau Fatmawati yang memiliki arti nama Bunga Teratai (Lotus), putri tunggal dari seorang pimpinan Muhammadiyah Cabang Bengkulu Hassan Din dan Siti Chadidjah yang lahir pada tanggal 5 Februari 1923. Fat adalah anak yang istimewa, sejak kecil dia sudah pandai dalam pelajaran disekolah, mengaji, menjahit, menari, dan memasak. Ketika berusia enam tahun Fat bersekolah di Sekolah Gedang (Sekolah Rakyat), namun pada tahun 1930 Fat dipindahkan ke Sekolah Hollandsch Inlandsche School  (HIS) yakni sekolah dasar yang diperuntukan khusus untuk kaum bangsawan atau tokoh terkemuka.       Lahir ditengah cengkraman Kolonialisme Belanda, masa kecil Fat penuh dengan perjuangan. Hassan Din yang semula bekerja di Borsumij (Borneo – Sumater...